,

Tragedi Cutter Di SMP Bondowoso: Siswa 13 Tahun Jadi Korban, Dispendik Turun Tangan

oleh -608 Dilihat
Oplus_16908288
banner 468x60

KawalBersama News, Bondowoso – Suasana belajar di salah satu sekolah menengah pertama negeri di Bondowoso mendadak mencekam pada Kamis (21/8/2025) pagi. Seorang siswa berusia 13 tahun dilaporkan menjadi korban dugaan penyerangan menggunakan cutter oleh teman sekelasnya.

Insiden mengejutkan ini terjadi saat jam pelajaran baru dimulai. Beberapa siswa yang berada di lokasi menyebut, korban tiba-tiba diserang dengan senjata tajam ringan berupa cutter yang diduga dibawa pelaku dari rumah.

banner 336x280

Korban langsung mengalami luka pada bagian tangan dan sempat menangis histeris di depan teman-temannya. Guru yang mengetahui peristiwa itu segera melerai dan mengevakuasi korban ke ruang kesehatan sekolah sebelum dibawa ke puskesmas terdekat.

Pelaku yang juga masih berusia 13 tahun segera diamankan pihak sekolah. Guru beserta staf kemudian menghubungi orang tua pelaku dan korban untuk melakukan mediasi awal.

Meski insiden itu tidak mengakibatkan luka fatal, peristiwa tersebut memicu kekhawatiran mendalam di kalangan orang tua siswa. Banyak yang mempertanyakan pengawasan sekolah serta bagaimana benda tajam bisa lolos masuk ke lingkungan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Bondowoso, melalui pernyataan resminya, menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sekolah-sekolah negeri di wilayahnya. Evaluasi itu mencakup sistem pengawasan, keamanan lingkungan sekolah, hingga pembinaan karakter siswa.

“Kami tidak ingin peristiwa seperti ini terulang. Lingkungan sekolah harus menjadi tempat aman bagi seluruh siswa untuk belajar, bukan malah menimbulkan rasa takut,” tegas pejabat Dispendik Bondowoso.

Dispendik juga berencana memperketat regulasi terkait barang bawaan siswa. Salah satu usulan yang akan dibahas adalah pemeriksaan acak terhadap tas siswa, serta penguatan peran guru BK dalam mendeteksi potensi konflik di antara peserta didik.

Selain itu, pihak sekolah diminta segera meningkatkan komunikasi dengan orang tua. Menurut Dispendik, kolaborasi keluarga dan sekolah menjadi kunci penting dalam mencegah tindakan kekerasan maupun kenakalan remaja.Pengamat pendidikan di Bondowoso menilai kasus ini sebagai alarm serius bagi dunia pendidikan.

“Kekerasan antarsiswa, sekecil apapun bentuknya, bisa berdampak psikologis panjang. Sekolah harus lebih proaktif dalam membangun budaya damai dan ramah anak,” ujarnya.

Hingga kini, kondisi korban dilaporkan stabil setelah mendapat perawatan medis. Sementara itu, pelaku masih dalam pendampingan guru dan orang tua untuk dilakukan pembinaan khusus.

Kasus dugaan penusukan ini menjadi sorotan publik Bondowoso. Banyak pihak berharap, kejadian di SMP negeri tersebut menjadi pelajaran berharga agar sekolah-sekolah lebih waspada dan tidak mengabaikan aspek keamanan siswa.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.