Santri Diduga Jadi Kuli Bangunan karena Hukuman, Terungkap di Balik Tragedi Ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

oleh -449 Dilihat
banner 468x60

KawalBersama News, Sidoarjo — Tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, yang menewaskan puluhan santri, kini mulai menguak sejumlah fakta baru. Kesaksian para santri dan wali murid mengungkap bahwa sebagian santri ternyata dilibatkan dalam proses pengecoran bangunan musala sebelum peristiwa maut itu terjadi — bahkan ada yang mengaku dijadikan “kuli bangunan” sebagai bentuk hukuman dari pengasuh pondok.

Beberapa santri menyampaikan bahwa mereka diminta ikut dalam proses pembangunan, mulai dari mengangkat semen hingga membantu pengecoran lantai atas. Kegiatan itu tidak hanya disebut sebagai kerja bakti, tetapi juga bentuk sanksi bagi santri yang dianggap melanggar peraturan pesantren.

banner 336x280

“Kalau ada yang melanggar atau tidak ikut kegiatan pondok, biasanya disuruh bantu bangunan. Ada yang disuruh ngaduk semen, ada yang bantu angkat bahan,” ungkap salah satu santri yang selamat dari kejadian tersebut.Hal itu turut diperkuat oleh kesaksian wali santri asal Kabupaten Sampang, Muhammad Sukron. Ia mengatakan bahwa anaknya sempat bercerita soal keterlibatan para santri senior dalam pengecoran lantai musala pondok. “Anak saya cerita, mereka ikut bantu kerja bangunan. Katanya yang nggak ikut kegiatan malah disuruh bantu ngecor,” ujar Sukron.

Ahmad Zabidi, wali santri lainnya, juga mengungkapkan bahwa pembangunan musala di pondok tersebut sudah berjalan sekitar sembilan bulan. “Anak saya sering dilibatkan, katanya disuruh bantu karena bangunannya buat pondok juga. Untung waktu bangunan ambruk dia sedang istirahat, kalau masih di atas pasti ikut jatuh,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Dari hasil peninjauan lapangan, ditemukan dugaan kuat bahwa bangunan musala yang roboh itu tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) dan dikerjakan tanpa perhitungan struktur yang sesuai standar. Pihak pemerintah daerah menegaskan bahwa musala tersebut awalnya hanya direncanakan satu lantai, namun kemudian ditambah menjadi tiga lantai tanpa kajian teknis yang memadai.

“Bangunan itu seharusnya hanya satu lantai, tapi ditambah ruang di lantai dua dan tiga tanpa perhitungan beban struktur yang tepat,” ungkap salah satu pakar teknik sipil yang memeriksa lokasi kejadian.

Peristiwa robohnya bangunan Ponpes Al Khoziny kini menjadi tragedi pendidikan dan kemanusiaan terbesar di tahun 2025, dengan puluhan korban jiwa dan puluhan lainnya luka berat. Hingga kini, aparat masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab utama robohnya bangunan serta kemungkinan adanya kelalaian pihak pengelola pesantren.

Upaya untuk meminta keterangan resmi dari pengurus pondok terkait dugaan keterlibatan santri dalam pekerjaan bangunan sejauh ini belum berhasil. Sejumlah santri yang menjaga area pondok menolak wartawan yang mencoba melakukan wawancara.(Isnur)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.