, ,

Santri Bondowoso Mengecam Trans7: Ribuan Santri Bela Kiai, Jaga Marwah Pesantren dari Layar yang Menyesatkan

oleh -425 Dilihat
banner 468x60

KawalBersama News, Bondowoso — Ratusan santri dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Bondowoso turun ke jalan, Rabu (15/10/2025). Mereka menggelar aksi damai di depan Monumen Gerbong Maut sebagai bentuk protes terhadap tayangan di stasiun televisi Trans7 yang dinilai melecehkan martabat kiai dan santri.

Aksi tersebut berlangsung khidmat meski di bawah terik matahari siang. Para santri tampak mengenakan sarung, berpeci, dan membawa berbagai poster berisi seruan moral. Di antaranya bertuliskan “Bela Kiai Sampai Mati” dan “Boikot Trans7, Saya Siap Korban Harta dan Nyawa.

banner 336x280

“Kegiatan diawali dengan pembacaan hizb dan istighosah, diikuti lantunan shalawat bersama. Suasana religius bercampur semangat perjuangan tampak ketika orasi mulai bergema dari perwakilan berbagai pondok pesantren se-Kabupaten Bondowoso.

Dalam orasinya, para santri menilai tayangan Trans7 telah menampilkan konten yang merendahkan citra pesantren. Mereka menilai tayangan tersebut tidak mencerminkan nilai jurnalistik, bahkan berpotensi menyesatkan publik.

“Video itu bukan karya jurnalistik. Kami menduga sumbernya diambil secara sembarangan dan berpotensi melanggar undang-undang hak cipta,” ujar Abdul Kholik, salah satu koordinator aksi sekaligus alumni Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo.

Aksi yang dipadati ribuan peserta itu juga diikuti oleh perwakilan Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Rayon Bondowoso. Dalam orasinya, mereka menegaskan bahwa semangat kemerdekaan Indonesia tak lepas dari perjuangan para ulama dan kiai pesantren.

“Perjuangan kemerdekaan lahir dari semangat ulama dan masyayikh. Tapi Trans7 seenaknya membuat asumsi yang menebar kebencian dan menyulut kemarahan kami,” tegas salah satu orator dari IKSASS disambut pekikan takbir para santri.

Aksi ini juga diikuti oleh berbagai organisasi pelajar dan mahasiswa seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bondowoso dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Hadir pula Ketua PC Pagar Nusa Bondowoso, H. Syamsul Arifin, serta sejumlah tokoh masyarakat dan alumni pesantren.

Salah satu koordinator lapangan, M. Daimul Ihsan, menyoroti ketidakhadiran beberapa pejabat daerah dalam aksi tersebut. “Kita jangan lupa dengan tujuan kita. Kapolres, Dandim, dan Bupati serta Wakil Bupati tidak hadir di tengah-tengah kita. Hanya Ketua DPRD Bondowoso yang hadir dari jajaran Forkopimda,” ujarnya dalam orasi. Beberapa waktu kemudian Bupati Bondowoso pun hadir ke tengah acara.

Meski demikian, kehadiran Ketua DPRD Bondowoso, H. Ahmad Dhafir, menjadi perhatian massa. Dalam orasinya, Dhafir menegaskan bahwa perjuangan ulama dan pesantren telah berakar kuat dalam sejarah bangsa.

“Jangan lupakan juga bahwa Ponpes Lirboyo pernah jadi markas Kodam Brawijaya tahun 1965. Para ulama ikut berjasa dalam penumpasan PKI. Kami mencurigai bahwa Trans7 saat ini disusupi antek-antek PKI,” pekik Dhafir yang juga alumni Pondok Pesantren Sidogiri itu.

Sementara itu, Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menyambut baik aspirasi yang disampaikan para santri. Ia menilai aksi tersebut berjalan tertib dan menunjukkan kedewasaan moral kalangan pesantren.

“Kami juga akan menyampaikan aspirasi sesuai dengan regulasi yang berlaku,” kata Bupati yang juga pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid itu saat dikonfirmasi terpisah.

Aksi damai ini juga mendapat pengawalan ketat dari Polres Bondowoso dan Satpol PP. Situasi di sekitar Monumen Gerbong Maut tetap kondusif hingga akhir kegiatan.

Di penghujung acara, para santri dan perwakilan organisasi menandatangani kesepakatan bersama yang berisi seruan menjaga kehormatan pesantren dan mendesak media agar lebih bijak menayangkan konten keagamaan.

Sebelum membubarkan diri, para santri berdiri khusyuk dalam mahalul qiyam, melantunkan Sholawat Asyghil sebagai penutup. Massa kemudian bergerak menuju Polres Bondowoso untuk melaporkan dugaan pelanggaran etika dan pencemaran nama baik oleh Trans7 kepada pihak berwenang.

Aksi berakhir dengan damai, meninggalkan pesan kuat dari Bondowoso untuk negeri: “Santri bukan hanya penjaga moral bangsa, tapi juga benteng terakhir kehormatan ulama.”

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.