Tragedi Anak SD di Ngada Jadi Alarm Pendidikan dan Kemiskinan Ekstrem

oleh -1953 Dilihat
banner 468x60

KawalBersama News, Jakarta – Ketua Umum Gaharu Nusantara Bersinar (GNB), Vernando Sihombing, menyebut meninggalnya seorang anak laki-laki kelas IV SD berusia 10 tahun berinisial YBS di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebagai alarm keras bagi negara atas persoalan pendidikan dan kemiskinan ekstrem.

YBS ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di sebuah pohon cengkeh, pekan lalu. Peristiwa ini menyita perhatian publik setelah ditemukan secarik kertas berisi tulisan tangan korban yang ditujukan kepada ibunya, yang diduga berkaitan dengan ketidakmampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar sekolah seperti buku dan pensil akibat kemiskinan ekstrem.

banner 336x280

“Ini bukan sekadar tragedi keluarga, melainkan tragedi kemanusiaan dan kegagalan kolektif negara dalam melindungi anak-anak paling rentan,” ujar Vernando dalam pernyataan tertulis.

Menurut GNB, kasus tersebut membuktikan bahwa kebijakan pendidikan yang diklaim gratis masih menyisakan beban tidak langsung yang justru paling memberatkan keluarga miskin ekstrem. Negara dinilai belum sepenuhnya hadir dalam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan bagi seluruh anak.

GNB juga menilai pernyataan Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDIP, Selly Andriany Gantina, yang menyebut kasus ini sebagai bukti kebijakan pendidikan belum berpihak pada kelompok paling rentan, memperkuat bahwa persoalan tersebut bersifat struktural, bukan insidental.

Selain itu, GNB mendukung langkah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang meminta kepolisian menyelidiki kemungkinan adanya perundungan di lingkungan sekolah. “Setiap dugaan tekanan psikologis terhadap anak harus diusut secara transparan dan menyeluruh,” kata Vernando.

GNB mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk menyediakan dukungan perlengkapan sekolah bagi keluarga miskin ekstrem, memperkuat deteksi dini masalah psikologis anak di sekolah, serta memastikan kebijakan pendidikan benar-benar inklusif. “Anak seusia YBS seharusnya bermimpi tentang masa depan, bukan putus harapan karena kemiskinan,” pungkasnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.