KawalBersama News, Klaten — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi meresmikan 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/Kel MB) dalam seremoni nasional yang berlangsung di Desa Bentangan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (21/7/2025).
Kegiatan ini digelar serentak secara hybrid dan diikuti oleh ribuan peserta dari 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, menjadi salah satu inisiatif ekonomi desa terbesar dalam sejarah Indonesia.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa program Kopdes Merah Putih merupakan upaya konkret pemerintah untuk memperkuat kemandirian ekonomi desa, mempercepat inklusi keuangan, dan memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah pedesaan.
“Kita tidak ingin lagi melihat petani, nelayan, dan pelaku usaha desa kesulitan mengakses modal, distribusi, dan pasar. Melalui Kopdes, kita ingin desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkeadilan dan berkelanjutan,” ujar Presiden Prabowo dalam sambutannya.
Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, melaporkan bahwa hingga Juli 2025, sudah terbentuk 81.140 unit Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 80.048 unit telah berbadan hukum, siap beroperasi dan memberikan pelayanan ekonomi secara legal dan formal.
“Kopdes Merah Putih adalah bentuk koperasi modern, kita sebut sebagai startup desa. Ini bukan koperasi konvensional, tapi koperasi berbasis digital yang mengedepankan profesionalisme dan inklusi,” kata Budi Arie.
Kemenkop UKM juga meluncurkan Bus Kopdes Merah Putih, kendaraan edukatif keliling yang dilengkapi fasilitas pelatihan, studio podcast, serta pusat informasi koperasi. Bus ini akan menjadi ujung tombak edukasi dan sosialiasi peran koperasi di tingkat desa dan kelurahan.
Kopdes Merah Putih dilengkapi dengan:
- Aplikasi sistem informasi koperasi digital,
- Layanan simpan pinjam berbasis anggota,
- Gerai sembako, apotek desa, hingga klinik dan logistik,
- Akses pembiayaan langsung seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Menteri Perdagangan dan Menko Perekonomian Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa keberadaan Kopdes Merah Putih akan memangkas rantai pasok, mencegah dominasi tengkulak dan rentenir di desa.
“Kopdes Merah Putih jadi senjata kita melawan ekonomi biaya tinggi. Produk petani dan nelayan bisa langsung masuk pasar, distribusi bahan pokok pun lebih efisien,” ujar Zulkifli.
Meski diapresiasi luas, peluncuran Kopdes juga diiringi catatan kritis dari sejumlah pengamat ekonomi. Salah satu tantangan utama adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM) di desa, tata kelola koperasi yang profesional, serta pengawasan agar tidak terjadi penyalahgunaan dana dan fungsi koperasi.
Namun pemerintah optimis bahwa program ini akan menjadi pondasi kuat menuju transformasi ekonomi desa secara menyeluruh.














