KawalBersama News, Situbondo —Universitas Jember melalui program pengabdian kepada masyarakat menghadirkan gebrakan inovatif dengan memadukan penguatan kompetensi Bahasa Inggris dan literasi budaya melalui pendampingan penciptaan motif batik kontemporer berbasis kearifan lokal Tapal Kuda. Kegiatan ini merupakan skema Program Kemitraan Masyarakat antara Universitas Jember melalui LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) dengan Forum Pemuda Pelopor Situbondo yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Workshop batik dilaksanakan pada tanggal 16 – 17 Agustus 2025 bertempat di Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Situbondo.
Kegiatan bertajuk “Teori dan Praktik Desain Batik Kontemporer, Batik Workshop & Exhibition” ini menjadi puncak rangkaian penguatan kompetensi pemuda Situbondo yang sebelumnya telah mengikuti serangkaian pertemuan daring dan luring sejak Juli 2025 yang bertujuan untuk membekali pemuda Situbondo dengan keterampilan bahasa Inggris, literasi budaya, serta meningkatkan kreativitas seni dan budaya untuk melahirkan karya-karya batik kontemporer yang tetap berakar pada identitas lokal.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Situbondo, H. Puguh Wardoyo, S.S., M.M, yang menegaskan bahwa kemampuan berbahasa Inggris merupakan kunci utama dalam memperkenalkan potensi budaya Situbondo ke masyarakat global, dan mendukung visi Situbondo Naik Kelas. “Bahasa Inggris adalah kompetensi strategis agar pemuda Situbondo mampu menjadi duta budaya. Melalui bahasa, batik dan kearifan lokal Tapal Kuda, Situbondo bisa dikenal oleh dunia global,” ungkapnya.
Selain itu, Ketua Forum Pemuda Pelopor Situbondo, Son Haji Sanuwar, S.Sos., M.Kesos., turut menyampaikan dukungannya. Ia memandang kegiatan ini merupakan langkah nyata pemberdayaan pemuda secara berkelanjutan agar mampu bersaing secara kreatif sekaligus menjaga warisan budaya.
Selanjutnya, Ketua tim pengabdian masyarakat, Ika Fitriani, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa batik kontemporer Situbondo memiliki potensi besar untuk dikenalkan secara global. “Motif-motif baru seperti Taman Nasional Baluran, nasi sodu, pa’beng, perahu layar, dan daun marongghi (daun kelor) bukan hanya sekadar motif di atas kain, namun juga membawa cerita budaya, keindahan, dan kekayaan alam, serta kondisi sosio kultural masyarakat setempat. Melalui pelatihan ini, pemuda bisa menjadi kreator sekaligus promotor budaya daerahnya,” jelasnya.
Selain itu, Chandra Ayu Proborini, M.Pd., mengenalkan sekaligus mengeksplorasi potensi daerah yang kerap kali bisa dijadikan sebagai karya unggulan yakni batik, ditambah Diana Setia Dewi, M.Pd., yang menambahkan strategi mempromosikan potensi budaya lokal dengan trend masa kini, semakin membuat peserta antusias dalam mengikuti serangkaian kegiatan.
Kegiatan ini diselenggarakan selama dua hari yaitu pada 16-17 Agustus 2025 ini terbagi ke dalam empat sesi. Sesi pertama diawali dengan diskusi tentang sejarah dan makna batik sebagai identitas dan warisan budaya nusantara yang diakui oleh UNESCO. Nampak pada sesi tersebut para peserta antusias dalam memproyeksikan desain motif batik kontemporernya sesuai dengan ciri khas kabupaten Situbondo.
Sesi kedua adalah praktik eksplorasi budaya Tapal Kuda dan penciptaan desain motif batik kontemporer. Kegiatan dipandu langsung oleh Frangky Kurniawan, S.Pd., M.Pd. Para peserta diperkenalkan teknik mola dan nyanting sebagai langkah awal dalam proses membuat batik. Antusiasme tinggi terlihat dari karya-karya yang menampilkan nuansa lokal khas daerah Tapal Kuda.
Selanjutnya, di sesi ketiga kegiatan berfokus pada tahap pewarnaan, pengawetan warna, hingga nglorot sebelum batik dapat siap digunakan. Peserta nampak antusias dan bekerja secara kolektif dalam memproduksi karya batik miliknya.
Setelah semua proses batik selesai, kegiatan dilanjutkan ke tahap akhir berupa gelar karya hasil batik semua peserta serta dilanjutkan dengan pemberian umpan balik dan refleksi. Tiga desain terbaik diumumkan untuk memotivasi peserta agar terus mengembangkan kreativitasnya.
Kurang lebih 25 pemuda-pemudi Situbondo mengikuti kegiatan selama dua hari dari pagi hingga sore dengan penuh semangat. Mereka tidak hanya mengasah kemampuan bahasa Inggris secara pasif, namun juga sebagai brand ambassador budaya Tapal Kuda melalui pengaplikasian bahasa Inggris sebagai aktif melalui presentasi budaya. “Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Pemuda Situbondo harus terus belajar, berinovasi, dan membawa identitas lokal mereka ke panggung global,” pungkas Ika Fitriani.
Kegiatan pengabdian ini tidak hanya melibatkan pihak dosen dari Universitas Jember dan Institut Teknologi dan Bisnis Tuban serta praktisi batik, empat mahasiswa dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan PGSD FKIP Universitas Jember juga turut dilibatkan secara langsung dalam serangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Keempat mahasiswa tersebut antara lain Rafi Sofyan, Faridatul, Arda Cahya, dan Diah Alfian.
Selama rangkaian kegiatan PKM berlangsung, mahasiswa dilibatkan secara aktif untuk melakukan pendampingan peserta dalam proses belajar maupun praktik langsung di lapangan. Hal ini tentu menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa sebagai wujud dari pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi.













