KawalBersama News, Bondowoso– Suasana hangat terasa di sebuah ruangan sederhana di Kecamatan Tapen, Bondowoso. Para tokoh agama dan ulama setempat berkumpul dalam sebuah forum silaturahmi yang dipelopori oleh Moh. Hazin, Penyuluh Agama Islam. Pertemuan ini digelar sebagai ikhtiar memperkuat persatuan umat yang belakangan dinilai semakin krusial.
Dalam forum itu, peran Madrasah Diniyah (Madin) menjadi sorotan utama. H. Saifullah, Ketua Madin Kecamatan Tapen, tampil menonjol dengan gagasan kritisnya. Ia menegaskan bahwa pendidikan diniyah bukan sekadar ruang belajar, melainkan benteng yang membentuk karakter dan solidaritas umat sejak dini.
Menurut Saifullah, nilai ukhuwah islamiyah harus dikenalkan sedini mungkin kepada generasi muda. “Jika anak-anak kita tumbuh dengan kesadaran persaudaraan, maka mereka akan menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan masyarakat,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian serius dari para tokoh lain yang hadir. Mereka sepakat bahwa pendidikan diniyah memiliki peran strategis dalam membangun fondasi sosial yang kokoh di Kecamatan Tapen.
H. Hadari, Ketua MWC NU Tapen, menambahkan bahwa upaya menjaga harmoni sosial tidak bisa dilepaskan dari peran ulama dan lembaga pendidikan. “Persatuan adalah kunci untuk mencegah perpecahan yang merusak sendi kehidupan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, H. Zainuddin, perwakilan PCNU Bondowoso, memberikan arahan strategis. Ia menekankan perlunya sinergi yang berkesinambungan antara ulama, pemerintah, dan masyarakat. Sinergi itu diyakini mampu membuat program-program keagamaan lebih terarah dan bermanfaat.
Diskusi pun mengalir dengan santun meski penuh semangat. Setiap tokoh menyampaikan gagasannya tanpa saling menegasikan, melainkan memperkuat satu sama lain. Forum tersebut bukan hanya arena musyawarah, tetapi juga ajang mempererat tali persaudaraan di kalangan ulama Tapen.
H. Saifullah kembali menggarisbawahi urgensi Madin dalam memperkokoh barisan umat. Ia menilai bahwa pendidikan diniyah adalah investasi jangka panjang untuk membentengi generasi dari ancaman disintegrasi. “Di Madinlah anak-anak ditempa agar cinta persaudaraan dan siap membangun harmoni sosial,” tuturnya.
Pandangan ini disambut antusias para peserta pertemuan. Mereka menyadari bahwa persatuan tidak mungkin hanya diucapkan dalam forum, tetapi harus ditanamkan melalui pendidikan berkelanjutan, terutama di tingkat dasar.
Di penghujung acara, para tokoh menyepakati bahwa hasil musyawarah kali ini akan menjadi pijakan bersama. Mereka berkomitmen memperkuat sinergi dengan menjadikan Madin sebagai pusat penanaman nilai persatuan.
Semangat kolektif itu menghadirkan harapan baru bagi umat di Tapen. Dengan kebersamaan, masyarakat diyakini mampu menghadapi berbagai tantangan sosial yang kian kompleks.
Pertemuan sederhana tersebut akhirnya menegaskan satu hal penting: di balik isu persatuan umat, Madin dan generasi muda adalah fondasi utama. Dan H. Saifullah berdiri di garda depan, mengingatkan bahwa membina anak-anak sejak dini sama dengan membangun masa depan umat yang kokoh dan harmonis.














