KawalBersama News, Sidoarjo – Layar Lokal Film Festival VI resmi membuka rangkaian kegiatannya di Sidoarjo pada Jumat malam, 12 Desember 2025. Festival sinema tahunan ini kembali menegaskan peran Sidoarjo sebagai ruang pertemuan kreatif bagi sineas dan karya film lokal dari berbagai daerah di Indonesia. Panitia menggelar pembukaan secara terbuka di Cinema Garden dan berhasil menarik perhatian komunitas film, pelaku industri kreatif, serta masyarakat umum.
Sejak sore, pengunjung mulai memadati area acara. Antusiasme penonton mencerminkan tingginya minat publik terhadap film-film lokal yang mengangkat isu sosial dan budaya Nusantara. Panitia merancang pembukaan dengan konsep hangat dan inklusif agar penonton merasa dekat dengan para pembuat film.
Opening Festival Berlangsung Hangat dan Energik
Panitia membuka festival tepat pukul 19.00 WIB melalui sesi Opening Festival. Pendiri sekaligus Presiden Festival, Rehal Lahir Prias Supuntari, bersama Direktur Festival, Fahmi Adimara, memimpin langsung seremoni pembukaan. Keduanya menyapa penonton dan peserta dengan semangat kolaboratif serta pesan optimisme bagi masa depan perfilman lokal.
Dalam sambutannya, Rehal menegaskan komitmen Layar Lokal Film Festival VI sebagai ruang aman bagi ekspresi kreatif sineas daerah. Ia menyampaikan bahwa festival ini tidak hanya menghadirkan pemutaran film, tetapi juga membuka ruang dialog, membangun jejaring, dan menumbuhkan keberanian berkarya. Fahmi Adimara menambahkan bahwa LLFF terus mendorong kolaborasi lintas komunitas agar film lokal memiliki daya saing dan jangkauan yang lebih luas.
Layar Nusantara Sajikan Film Sarat Makna
Usai pembukaan, panitia langsung melanjutkan agenda dengan sesi pemutaran khusus bertajuk Layar Nusantara pada pukul 19.45 WIB hingga 22.00 WIB. Penonton menyaksikan film Patriark, Patruirk yang menghadirkan narasi kritis dan reflektif. Film tersebut memancing respons aktif dari penonton dan membuka ruang diskusi yang hidup.
Suasana ruang terbuka Cinema Garden menciptakan kedekatan antara pembuat film dan penonton. Interaksi yang cair membuat diskusi berlangsung lebih intens dan jujur. Penonton secara aktif menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait tema film yang diangkat.
Diskusi dan Pertunjukan Perkaya Festival
Panitia mengemas diskusi pascapemutaran secara dinamis dengan menghadirkan narasumber secara luring dan daring. Satu narasumber tampil langsung di panggung utama, sementara dua lainnya bergabung melalui sambungan video. Format ini menunjukkan semangat konektivitas dan kolaborasi dalam dunia perfilman di era digital.
Selain diskusi, panggung utama juga menghadirkan pertunjukan seni dari penampil tunggal. Penampilan tersebut berhasil memikat perhatian pengunjung dan memperkaya atmosfer festival. Panitia menghadirkan pertunjukan ini untuk memperkuat identitas LLFF sebagai perayaan budaya yang inklusif.
Dorong Ekosistem Film Lokal Berkelanjutan
Layar Lokal Film Festival VI menargetkan terciptanya ruang apresiasi, edukasi, dan pertukaran gagasan bagi karya film inspiratif. Festival ini mendorong tumbuhnya jaringan komunitas film daerah agar mampu melahirkan ide-ide segar dan berkelanjutan. Fahmi Adimara berharap LLFF VI mampu menjadi katalis kemajuan perfilman lokal. Ia mengajak masyarakat untuk hadir, menonton, berdiskusi, dan mendukung sineas daerah hingga rangkaian acara berakhir pada Minggu.













