KawalBersama News, Bondowoso – Kasus penusukan terhadap dua perempuan di Bondowoso mendapat sorotan serius dari kalangan mahasiswa. PC Korps PMII Putri (KOPRI) Bondowoso menggelar audiensi dengan Satreskrim Polres Bondowoso juga unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) untuk mendesak kepolisian bekerja lebih cepat dan transparan dalam mengusut kasus yang meresahkan warga ini.
Audiensi yang berlangsung pada Senin (15/9/2025) di ruang Satreskrim Polres Bondowoso itu dipimpin langsung oleh Ketua PC KOPRI, Nur Faizah, SH. Pertemuan ini menjadi simbol kepedulian mahasiswa, khususnya kader perempuan PMII, terhadap isu keamanan publik dan perlindungan terhadap perempuan.
Dalam pertemuan tersebut, Nur Faizah secara lugas mempertanyakan sejauh mana langkah penyelidikan telah dilakukan oleh kepolisian. “Kasus ini sudah menimbulkan rasa takut di kalangan perempuan Bondowoso. Kami ingin memastikan, sudah sejauh mana polisi bekerja,” ujarnya di hadapan Kasat Reskrim, AKP Roni Ismullah, SH., MM.
Menjawab hal itu, AKP Roni menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan visum terhadap korban serta mengumpulkan sejumlah barang bukti, termasuk rekaman CCTV. “Hari ini kasus tersebut sudah di tahap penyelidikan. Proses ini tidak mudah, tetapi kami berkomitmen bekerja cermat agar tidak sampai salah tangkap,” katanya.
Nur Faizah juga menyinggung soal patroli malam yang dinilai belum efektif. “Kapolres rutin melakukan patroli, namun mengapa masih ada celah hingga pelaku bisa beraksi?” tanyanya kritis.
AKP Roni menjelaskan, pelaku kemungkinan besar telah membaca situasi dan mencari kesempatan ketika patroli tidak melewati wilayah kejadian. “Mereka beraksi di momen sepi, memanfaatkan celah yang ada,” ujarnya.Dialog semakin intens ketika Nur Faizah mempertanyakan soal saksi mata. Ia menilai, tanpa saksi tambahan, penyelidikan akan sulit dilakukan. Menanggapi hal ini, AKP Roni mengakui bahwa sejauh ini satu-satunya saksi hanyalah korban. “Tidak ada saksi lain di TKP, hanya korban yang mengalami langsung,” jelasnya.
Tak hanya berhenti pada kritik, KOPRI juga menuntut adanya solusi jangka panjang. “Masyarakat butuh jaminan rasa aman. Apa strategi Polres agar kasus serupa tidak lagi terjadi?” desak Nur Faizah.AKP Roni menjawab dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara aparat dan masyarakat. Selain patroli rutin, masyarakat diminta berperan aktif menjaga diri. “Hindari melewati jalan rawan meski lebih cepat. Pilih jalan yang ramai, meski lebih jauh. Keamanan adalah tanggung jawab bersama,” katanya.
Secara simbolik, audiensi ini menunjukkan mahasiswa hadir bukan hanya sebagai pengkritik, tetapi juga mitra sosial yang peduli pada isu publik. Nur Faizah menegaskan, KOPRI akan terus mengawal kasus hingga pelaku tertangkap. “Rasa aman adalah hak warga. Polisi harus hadir untuk itu,” pungkasnya.
Seperti diketahui, dua kasus penusukan yang terjadi di Klabang dan Tenggarang beberapa waktu lalu menjadi pemicu audiensi ini. Kedua korban sama-sama perempuan muda yang diserang ketika pulang di malam hari. Peristiwa tersebut menambah panjang daftar kejahatan jalanan yang mengintai warga Bondowoso.
Dengan adanya audiensi ini, publik berharap kolaborasi mahasiswa dan kepolisian dapat mempercepat terungkapnya pelaku sekaligus memperkuat sistem keamanan di daerah. Bondowoso diingatkan tidak boleh menjadi ruang ketakutan, terutama bagi perempuan yang berhak merasa aman di tanah kelahirannya.












