KawalBersama News, Jakarta — Indonesia tengah menghadapi krisis talenta digital yang mengkhawatirkan. Dari proyeksi kebutuhan 12 juta talenta digital pada 2030, saat ini masih terdapat kekurangan sekitar 2,7 juta orang, menurut data terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia (Komdigi).
Kesenjangan ini diperparah oleh minimnya pelatihan digital di lingkungan kerja. Laporan Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2024 mengungkap hanya 7,32 persen dari hampir 10 ribu perusahaan yang secara aktif melatih karyawannya secara digital dalam tiga tahun terakhir. Di kalangan masyarakat umum, situasinya tak jauh berbeda: hanya 5 persen pernah mengikuti pelatihan daring, dan sebagian besar hanya sekali.
“Tanpa intervensi sistematis, kesenjangan keterampilan ini akan terus melebar dan memperlambat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia,” kata Faiz Ghifari, Founder & CEO Belajarlagi, Rabu (16/7/2025).
Ia juga menyoroti tingginya tingkat pengangguran di usia 15–24 tahun—kelompok usia produktif yang seharusnya menjadi ujung tombak era digital.
“Bonus demografi tak akan berarti jika generasi mudanya tidak dibekali keterampilan yang relevan. Fokus kami adalah memastikan pelajar dan mahasiswa siap kerja, bukan hanya siap lulus,” tegasnya.
Pelatihan Digital untuk Semua Kalangan
Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, platform pelatihan Belajarlagi telah membekali ribuan peserta dari pelajar, mahasiswa, pelaku UMKM, hingga profesional muda, dengan keterampilan digital praktis. Melalui pendekatan blended learning (kombinasi online, offline, dan hybrid), pelatihan dilengkapi dengan proyek akhir, sesi mentoring, dan komunitas alumni aktif.
“Kami sudah dipercaya lebih dari 50 institusi dan perusahaan, termasuk Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, BCA, Peruri, hingga KPK,” ujar Faiz.
Kolaborasi dengan BI, Sediakan Sertifikasi Resmi dan Internasional
Sepanjang 2024, Belajarlagi menggandeng Bank Indonesia untuk menjangkau lebih dari 3.600 peserta, yang berhasil meraih sertifikasi kompetensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Selain itu, peserta juga mendapat akses ke sertifikasi global dari mitra internasional seperti Meta, Microsoft, dan Adobe.
“Kami percaya bahwa kompetensi nyata lebih penting dari sekadar ijazah. Karena itu, pelatihan kami dirancang untuk menjadi bagian dari perjalanan pembelajaran seumur hidup,” tutup Faiz.













