KawalBersama News, Situbondo — Ikatan Santri Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) kembali meneguhkan perannya dalam membentuk generasi alumni melalui kegiatan Tamhidiyah Calon Alumni (TCA) Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (PPSS) Sukorejo. Tahun ini, sebanyak 361 santri putra dan 623 santri putri mengikuti kegiatan yang berlangsung pada 23–25 Agustus 2025 di PPSS Al-As’adiyah, Blikiran, Situbondo.
Ketua Panitia TCA, Ust. Yohandi, M.Kom., yang juga pengurus pusat IKSASS, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Menurutnya, TCA merupakan instrumen penting bagi IKSASS dalam memastikan alumni Sukorejo tetap berkarakter, tangguh, dan loyal pada almamater.
“TCA seharusnya menjadi agenda penanaman nilai karakter. Melalui kegiatan ini, kita ingin mencetak alumni yang bukan hanya cerdas secara akademis, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman. Dibutuhkan kerja sama erat antara panitia, peserta, dan fasilitator,” tegas Yohandi.
Yohandi menambahkan, IKSASS memandang TCA sebagai wadah pembentukan kepribadian. Alumni bukan hanya dituntut mengambil ijazah atau surat rekomendasi pengasuh, tetapi juga membawa nilai-nilai pesantren ke tengah masyarakat. “IKSASS ingin alumni Sukorejo tetap memegang amanah pesantren, bertanggung jawab terhadap almamater, dan produktif dalam kehidupan sosial,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan yang pernah disampaikan almarhum KHR. Achmad Fawaid As’ad. Menurutnya, loyalitas alumni justru akan diuji ketika berhadapan dengan perbedaan kepentingan, baik sosial, ekonomi, maupun politik. “Tidak jarang alumni berbeda pendapat dengan pesantren. Namun, di situlah ujian loyalitas alumni Sukorejo,” ungkap beliau.
Dalam pelaksanaannya, TCA tidak dimaksudkan untuk mempelajari hal baru, melainkan mengingat kembali pengalaman semasa mondok. Baik santri yang mondok selama sepuluh tahun maupun yang hanya setahun, semuanya diingatkan kembali pada romantika kehidupan pesantren yang membentuk identitas mereka.
“Pesantren adalah miniatur kehidupan masyarakat. Apa yang kalian jalani di sini — belajar, berorganisasi, dan berkhidmah — akan kalian temukan kembali di masyarakat,” kata Yohandi dalam pesannya.
Ia juga mengingatkan agar alumni selalu bangga dengan identitas Sukorejo. Menurutnya, doa para muassis dan almarhumin akan senantiasa menyertai langkah para alumni, baik saat masih berada di pondok maupun ketika sudah berkiprah di tengah masyarakat.Sementara itu, Ust. Dr. Abdul Wasik, M.HI., fasilitator TCA, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan pintu gerbang penting bagi santri sebelum benar-benar berstatus alumni. “Acara ini bisa menjadi wasilah memperdalam keilmuan dan memperbaiki diri. Bahkan, bisa menjadi ladang taubatan nasuha bagi santri yang pernah melakukan kesalahan selama di pesantren,” jelasnya.
Abdul Wasik menambahkan, TCA yang diinisiasi IKSASS bukan sekadar penutup masa belajar, tetapi juga ajang penyadaran kolektif. Para peserta diberi kesempatan menata kembali niat, memperkuat komitmen, dan menyiapkan diri untuk membawa nilai-nilai pesantren di masyarakat.Menurutnya, alumni Sukorejo akan berhadapan dengan dinamika sosial yang kompleks. Karena itu, nilai kesetiaan terhadap almamater harus terus dipelihara. “IKSASS selalu menekankan agar alumni tidak tercerabut dari akar tradisi pesantren, meskipun hidup di tengah modernitas,” tandasnya.
Dengan TCA, IKSASS berharap lahir alumni Sukorejo yang tangguh, berkomitmen menjaga nama baik almamater, dan siap berkiprah di berbagai bidang kehidupan. Bagi IKSASS, alumni bukan hanya lulusan pesantren, melainkan duta nilai dan budaya Sukorejo yang harus membawa manfaat bagi umat dan bangsa.














