, ,

Dr. Suheri Bersama Rifky Gimnastiar: Kampus Santri Bukan Sekadar Julukan, Tapi Jalan Perjuangan

oleh -742 Dilihat
banner 468x60

KawalBersama News, Bondowoso – Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Averroes Komisariat RBA. IAI At-Taqwa Bondowoso, Rifky Gimnastiar, menegaskan pentingnya memahami makna mendalam dari istilah kampus santri. Ia menilai, sebutan tersebut tidak cukup hanya sebagai label identitas, tetapi harus dihidupi sebagai spirit yang membentuk cara pandang, sikap, dan tindakan mahasiswa di kehidupan kampus.

“Santri itu bukan hanya status, tapi identitas yang melekat dalam keseharian. Kampus santri harus menjadi ruang untuk menimba ilmu sekaligus membentuk akhlak, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial,” ujar Rifky Gimnastiar, Kamis (21/8/2025).

banner 336x280

Menurut Rifky, tantangan mahasiswa di era digital semakin kompleks. Jika tidak berakar pada nilai-nilai kepesantrenan, mahasiswa rentan terjebak dalam pragmatisme dan kehilangan arah moral. Karena itu, ia menekankan perlunya mahasiswa baru menjaga identitas santri dalam kehidupan akademik maupun berorganisasi.

Ia menyebut, santri identik dengan kemandirian, kedisiplinan, serta kesetiaan pada tradisi keilmuan. Tiga nilai itu harus dijaga sebagai benteng moral sekaligus modal sosial mahasiswa dalam menghadapi tantangan zaman.

Rifky juga menekankan peran organisasi mahasiswa, khususnya PMII, dalam mengawal proses pembentukan karakter di kampus. Menurutnya, PMII bukan sekadar wadah advokasi atau kegiatan seremonial, melainkan ruang kaderisasi yang memadukan intelektualitas dengan nilai keislaman.

“Menjadi bagian dari kampus santri berarti siap menempuh jalan perjuangan. Mahasiswa tidak hanya mengejar gelar akademik, tapi juga mengasah diri agar mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat,” jelas Rifky.

Senada dengan Rifky, Rektor IAI At-Taqwa Bondowoso, Dr. Suheri, M.Pd.I., menegaskan bahwa kampus yang dipimpinnya memang berkomitmen penuh untuk membentuk generasi berkarakter. IAI At-Taqwa, kata dia, tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga menumbuhkan kepemimpinan mahasiswa melalui kegiatan kemahasiswaan, unit kegiatan mahasiswa (UKM), hingga program pengabdian masyarakat.

Menurut Dr. Suheri, IAI At-Taqwa memiliki ciri khas yang membedakannya dengan perguruan tinggi lain, yakni suasana religius yang kental. “IAI At-Taqwa adalah kampus yang kaya akan budaya religius. Lingkungan belajar di sini kondusif dan bernuansa pesantren. Itulah keunggulan pendidikan Islam sejati,” ungkapnya.

Ia menambahkan, perpaduan atmosfer akademik dan nilai kepesantrenan menjadi keunggulan strategis IAI At-Taqwa. Kampus ini tidak hanya mencetak lulusan yang unggul secara intelektual, tetapi juga menumbuhkan integritas, kemandirian, dan kepedulian sosial.

Rifky kembali menekankan, semua potensi yang dimiliki kampus akan sia-sia jika mahasiswa bersikap pasif. Spirit kampus santri, menurutnya, hanya bisa terwujud apabila mahasiswa berani aktif dalam organisasi, kegiatan akademik, dan sosial.

“Kampus santri akan kehilangan makna jika mahasiswanya pasif. Justru dengan aktif berproses di organisasi, nilai-nilai pesantren bisa menyatu dengan realitas kampus,” tegas Rifky.

Baik pimpinan kampus maupun organisasi mahasiswa sama-sama berharap, momentum penerimaan mahasiswa baru dapat menjadi titik awal lahirnya generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjaga identitas santri dan siap berkontribusi di tengah masyarakat.

“Spirit kampus santri adalah semangat keberanian menjaga tradisi sekaligus membuka diri terhadap perubahan. Itulah yang harus ditanamkan sejak awal kepada mahasiswa baru,” pungkas Rifky.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.