, ,

Dari Dapur ke Kandang: SPPG Grujugan Kidul Jaga Rantai Pangan dan Ekonomi Warga

oleh -530 Dilihat
banner 468x60

(Foto: Ilustrasi By AI)

KawalBersama News, Bondowoso — Keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Grujugan Kidul, Bondowoso, tidak hanya memastikan kebutuhan gizi masyarakat terpenuhi, tetapi juga membangun rantai ekonomi lokal yang semakin kuat. Dari dapur hingga ke peternak, program ini menghadirkan kepastian yang sebelumnya sulit didapatkan warga.

banner 336x280

Di tengah aktivitas dapur yang padat setiap hari, Falah selaku asisten lapangan (Aslap) SPPG Grujugan Kidul memastikan seluruh proses berjalan sesuai kebutuhan. Mulai dari ketersediaan bahan hingga distribusi makanan, semuanya harus terkoordinasi dengan baik.

“Yang paling penting itu kontinuitas. Dapur harus tetap jalan setiap hari, jadi bahan pangan juga harus selalu tersedia dan tepat,” ujar Falah, Rabu, 29 April 2026.

Menurutnya, menjaga kestabilan pasokan menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan melibatkan warga lokal sebagai pemasok, koordinasi menjadi lebih mudah sekaligus memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.

“Kita memang utamakan dari warga sini. Selain lebih cepat, juga supaya manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat Grujugan Kidul sendiri,” tambahnya.

Salah satu yang merasakan dampak tersebut adalah Samsul Arifin, pemasok telur yang kini menjadi bagian penting dalam rantai pasok SPPG. Ia mengaku, sebelum adanya program ini, pemasaran telur miliknya tidak menentu.

“Dulu jual telur itu kadang nunggu pasar, kadang harus keliling. Sekarang sudah ada kebutuhan tetap setiap hari,” ungkap Samsul.

Permintaan yang stabil membuatnya bisa lebih fokus dalam mengelola usahanya. Ia juga mulai meningkatkan jumlah produksi agar mampu memenuhi kebutuhan dapur SPPG yang terus berjalan tanpa henti.

“Sekarang lebih terencana. Berapa yang harus disiapkan sudah jelas, jadi tidak bingung lagi soal penjualan,” jelasnya.

Meski demikian, ia tidak menampik adanya tantangan, terutama ketika harga pakan ternak mengalami kenaikan. Hal tersebut tentu berdampak pada biaya produksi telur.

“Kalau pakan naik, otomatis biaya juga naik. Tapi tetap kita usahakan suplai tidak terganggu,” katanya.

Baginya, menjaga kepercayaan menjadi hal utama, terlebih pasokan tersebut digunakan untuk kebutuhan gizi masyarakat.

Kolaborasi antara pengelola SPPG dan pemasok lokal seperti Samsul menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya berfokus pada konsumsi, tetapi juga memperkuat produksi di tingkat bawah. Dari dapur yang terus mengepul setiap hari, tercipta kesinambungan antara kebutuhan dan penghidupan warga.

SPPG Grujugan Kidul kini bukan sekadar tempat memasak, tetapi menjadi simpul penting yang menghubungkan dapur, peternak, dan harapan ekonomi masyarakat desa.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.