KawalBersama News, Sidoarjo – Polemik antara Bupati Sidoarjo Subandi dan Wakil Bupati Mimik Idayana terus mendapat sorotan dari berbagai pihak. Tokoh agama dan masyarakat menegaskan pentingnya soliditas kepemimpinan demi kelanjutan pembangunan di Kabupaten Sidoarjo.
Sorotan keras datang dari Khusnul Ma’arif, Rois Syuriah MWCNU Wonoayu, serta Abdul Wahab, tokoh masyarakat Kecamatan Waru. Keduanya menyampaikan pendapat langsung saat menghadiri acara Sholawat Nariyah di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (25/9/2025).
Tokoh Agama Sampaikan Keprihatinan
Khusnul Ma’arif menegaskan bahwa ia sangat prihatin melihat disharmoni yang terjadi antara Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo. Ia menilai perbedaan langkah pemimpin akan menghambat kinerja pemerintahan sekaligus merugikan masyarakat luas.
“Sebagai rakyat biasa, kami merasa prihatin ketika pemimpin daerah tidak bisa berjalan seiring. Kondisi seperti ini pasti memengaruhi pelayanan publik dan menghambat program kerja,” tegas Khusnul.
Ia juga menyatakan harapan besar agar kedua pemimpin Sidoarjo tetap rukun dan bersatu membangun daerah. “Kami hanya bisa berdoa supaya Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo tetap kompak membangun daerah. Jangan sampai perbedaan pandangan menghentikan langkah mereka di tengah jalan,” ucapnya.
Khusnul menolak wacana mundur yang sempat beredar. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak menginginkan Subandi maupun Mimik meninggalkan jabatannya. Menurutnya, rumor mengenai adanya pihak kuat di balik Wakil Bupati tidak seharusnya memperkeruh keadaan. “Seperti dalam rumah tangga, tetangga jangan ikut campur. Biarkan persoalan internal diselesaikan dengan musyawarah,” tambahnya.
Tokoh Masyarakat Ingatkan Janji Politik
Abdul Wahab, tokoh masyarakat Waru sekaligus kader PKB, menekankan pentingnya kepemimpinan yang mengayomi seluruh warga. Ia berharap Bupati dan Wakil Bupati benar-benar menjalankan janji politik yang mereka sampaikan saat Pilkada.
“Masyarakat Sidoarjo menunggu bukti nyata dari visi misi yang mereka tawarkan. Harapan kami sederhana, pemimpin harus rukun, kompak, dan hadir untuk rakyat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar kedua pemimpin bisa menurunkan ego masing-masing. Abdul Wahab menyinggung pengalaman pahit ketika pemimpin Sidoarjo sebelumnya tersandung kasus hukum di akhir masa jabatan.
“Kami tidak ingin sejarah kelam terulang kembali. Karena itu, Subandi dan Mimik wajib menjaga amanah rakyat serta menutup periode pemerintahan dengan baik,” pungkasnya.
Masyarakat Harap Ada Solusi
Polemik ini menarik perhatian luas karena masyarakat menilai kekompakan pemimpin daerah sangat berpengaruh terhadap jalannya roda pemerintahan.
Dengan adanya desakan dari tokoh agama dan masyarakat, publik berharap Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo segera memperbaiki komunikasi politiknya. Masyarakat menunggu langkah nyata keduanya dalam mengutamakan persatuan demi mewujudkan pembangunan Kabupaten Sidoarjo yang lebih maju.












