KawalBersama News, Sidoarjo – Duka mendalam akibat ambruknya bangunan mushala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, pada Senin (29/9/2025) kini diselimuti kontroversi. Di tengah upaya evakuasi yang telah menewaskan puluhan santri, temuan sebuah mobil mewah Mercedes-Benz CLA Class dalam kondisi ringsek parah di lokasi kejadian memicu sorotan tajam publik.
Mobil yang ditaksir bernilai lebih dari Rp 1 Miliar ini ditemukan dari balik tumpukan reruntuhan beton di dekat rumah pengasuh pondok. Temuan ini lantas membandingkan kemewahan pribadi pimpinan ponpes dengan kondisi bangunan yang rapuh dan fatal.
Perkembangan Korban dan Kinerja Tim SAR
Hingga Minggu malam (5/10/2025), proses evakuasi yang dilakukan Tim SAR Gabungan memasuki hari ketujuh. Data terkini menunjukkan total korban meninggal dunia yang berhasil dievakuasi telah mencapai 45 hingga 46 orang. Sebanyak 104 santri dinyatakan selamat, namun Tim SAR masih berjuang mencari 24 hingga 27 santri yang diduga masih tertimbun reruntuhan.
Tim SAR terus bekerja 24 jam penuh di tengah kendala identifikasi jenazah. Proses pembersihan reruntuhan yang diduga mengalami kegagalan konstruksi secara menyeluruh telah mencapai sekitar 75%.
Kritik Publik: Gaya Hidup vs. Kualitas Bangunan
Kontroversi kepemilikan mobil mewah ini memicu gelombang kritik di media sosial. Publik menuding adanya ketidakseimbangan antara gaya hidup pimpinan dan kualitas bangunan ponpes yang ambruk.
Isu “Bisnis Agama”: Banyak warganet yang menyindir bahwa pembangunan ponpes kini disalahgunakan untuk proyek dan bisnis alih-alih murni penyebaran agama, yang pada akhirnya membiayai gaya hidup mewah.
Dana Pembangunan dan Santri “Ngecor”: Sentimen negatif juga muncul karena mobil mewah ditemukan di saat bangunan ponpes diduga bermasalah secara konstruksi. Kritik ini diperkuat oleh beredarnya kabar bahwa santri pernah dilibatkan dalam pekerjaan pengecoran bangunan dengan dalih ‘kerja bakti’, padahal dana untuk membayar kontraktor profesional seharusnya tersedia.
Temuan mobil mewah ini mendesak pihak berwenang untuk tidak hanya mengusut penyebab teknis ambruknya bangunan, tetapi juga menelusuri dugaan penyimpangan dana dan aset kekayaan pimpinan ponpes serta aliran dana yang dihasilkan dari pondok pesantren tersebut.
Tragedi ini menjadi pengingat serius mengenai pentingnya transparansi pengelolaan aset dan kualitas pembangunan infrastruktur di lembaga pendidikan keagamaan.(Isnur)













