, ,

Membela Martabat Kiai: Menjernihkan Kesalahpahaman di Era Viral

oleh -302 Dilihat
banner 468x60

KawalBersama News, Karya Tulis — Di tengah derasnya arus informasi digital, kecepatan sering kali mengalahkan kebenaran. Potongan video berdurasi singkat dapat menyulut opini luas, menimbulkan kesalahpahaman, bahkan menggoyahkan kepercayaan masyarakat terhadap sosok yang seharusnya menjadi panutan spiritual: para kiai.

Belakangan ini beredar video yang menampilkan seorang kiai menerima amplop dari jamaah. Cuplikan singkat itu kemudian viral dengan berbagai narasi yang menyudutkan, seolah-olah tindakan tersebut menunjukkan ketamakan. Padahal, penilaian semacam itu lahir dari pandangan yang serampangan, tanpa memahami konteks sosial dan kultural kehidupan pesantren serta hubungan masyarakat dengan ulama.

banner 336x280

Dalam tradisi Islam Nusantara, pemberian kepada kiai bukanlah praktik transaksional. Ia adalah simbol penghormatan, ungkapan terima kasih, dan bentuk takzim kepada guru yang telah mendedikasikan hidupnya untuk membimbing umat. Amplop yang diberikan bukan harga atas dakwah, melainkan hadiah atas jasa spiritual, moral, dan intelektual yang tidak ternilai.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ta’līm al-Muta‘allim karya Imam Az-Zarnuji:

ومن لم يُكرمِ العِلمَ وأهلَهُ، لم ينتفع بالعلمِ
“Barang siapa tidak menghormati ilmu dan ahlinya, maka ia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmu tersebut.”
(Ta‘līm al-Muta‘allim, Bāb Ta‘ẓīm al-‘Ilm wa Ahlīh, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, hlm. 20)

Prinsip ini menegaskan bahwa menghormati ulama bukanlah kultus individu, melainkan bagian dari menjaga keberkahan ilmu yang diajarkan.

Kiai bukan sekadar pemuka agama. Ia adalah guru kehidupan, penjaga nilai-nilai akhlak, dan tempat masyarakat mencari nasihat saat menghadapi kegelisahan. Dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy‘ari disebutkan:

ينبغي للطالب أن يُعظِّمَ الشيخَ، ويوقِّره، ويعتقد كمالَ علمِه ورجحانَ عقلِه، ويُظهر الأدبَ بين يديه
“Seorang murid hendaknya memuliakan gurunya, menghormatinya, meyakini keutamaan ilmu dan kebijaksanaannya, serta menampakkan adab di hadapannya.”
(Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim, Jombang: Maktabah Turats al-Islami, 2012, hlm. 18)

Lebih jauh lagi, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan:

من أهدى إلى عالمٍ هديةً يريد بها بركةَ علمه، فذلك قربةٌ إلى الله، لا رياءَ فيها ولا سمعة
“Barang siapa memberi hadiah kepada seorang ulama dengan tujuan mencari keberkahan ilmunya, maka itu termasuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, bukan riya dan bukan pula untuk mencari pujian.”
(Ihya’ ‘Ulumuddin, Beirut: Dār al-Khair, 1998, Juz I, hlm. 53)

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali juga menegaskan:

فليُوقِّرِ المتعلِّمُ معلِّمَه، ولا يرفع صوتَه فوق صوتِه، ولا يمشي أمامَه، ولا يجلس في مكانِه
“Murid hendaklah menghormati gurunya, tidak meninggikan suara di hadapannya, tidak berjalan mendahuluinya, dan tidak duduk di tempatnya.”
(Bidayatul Hidayah, Kairo: Maktabah al-Masyhad al-Husaini, 2009, hlm. 11)

Bahkan dalam kitab Nashāih al-‘Ibād karya Syaikh Nawawi al-Bantani, beliau menasihatkan:

من أكرمَ عالِماً فقد أكرمَ دينَ الله، ومن استخفَّ به فقد استخفَّ بدينِ الله
“Barang siapa memuliakan seorang ulama, maka ia telah memuliakan agama Allah. Dan barang siapa merendahkannya, maka ia telah merendahkan agama Allah.”
(Nashāih al-‘Ibād, Surabaya: Al-Hidayah, 1953, hlm. 4)

Menilai kiai hanya dari potongan video berarti menutup mata terhadap seluruh pengabdian yang tak tampak di layar. Mereka hidup sederhana, mengajar tanpa pamrih, membina santri dengan kesabaran, dan menjaga doa bagi keselamatan umat setiap hari. Tak sepatutnya pengorbanan semacam itu dipatahkan oleh komentar yang lahir dari prasangka.

Sudah saatnya masyarakat lebih bijak dalam menanggapi isu yang beredar. Sebelum menilai, marilah kita bertanya: siapa yang selama ini mengajarkan kita tentang keikhlasan, kesabaran, dan ketulusan, jika bukan para kiai? Rasulullah ﷺ bersabda:

العلماءُ ورثةُ الأنبياءِ
“Para ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud)

Maka menghormati mereka adalah bagian dari menjaga keberkahan ilmu dan adab dalam kehidupan beragama.

Kiai tidak butuh pembelaan untuk dirinya. Namun bangsa ini butuh pembelaan terhadap kebenaran — agar marwah ulama tetap terjaga, dan agar masyarakat tidak kehilangan arah dalam menilai ketulusan para pewaris Nabi.

Daftar Pustaka Kitab Kuning

  1. الإمام الزرنوجي. تعليم المتعلم طريق التعلم. بيروت: دار الكتب العلمية، 2003، ص. 20.
    Imam Az-Zarnuji. Ta’līm al-Muta‘allim Ṭarīq at-Ta‘allum. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, hlm. 20.
  2. الشيخ هاشم الأشعري. آداب العالم والمتعلم. جومبانغ: مكتبة التراث الإسلامي، 2012، ص. 18.
    KH. Hasyim Asy‘ari. Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim. Jombang: Maktabah Turats al-Islami, 2012, hlm. 18.
  3. الإمام الغزالي. إحياء علوم الدين. بيروت: دار الخير، 1998، جـ 1، ص. 53.
    Imam Al-Ghazali. Ihya’ ‘Ulumuddin. Beirut: Dār al-Khair, 1998, Juz I, hlm. 53.
  4. الإمام الغزالي. بداية الهداية. القاهرة: مكتبة المشهد الحسيني، 2009، ص. 11.
    Imam Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah. Kairo: Maktabah al-Masyhad al-Husaini, 2009, hlm. 11.
  5. الشيخ نووي الجاوي. نصائح العباد. سورابايا: مطبعة الهداية، 1953، ص. 4.
    Syaikh Nawawi al-Bantani. Nashāih al-‘Ibād. Surabaya: Al-Hidayah Press, 1953, hlm. 4.

Oleh: Mahfud Junaidi, S.Pd.
Bondowoso, 17 Oktober 2025

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.