KawalBersama News, Nasional — Dulu, ia dipandang sebelah mata. Sebutan “anak ingusan” hingga “pemimpin instan” menjadi peluru yang rutin ditembakkan ke arahnya. Namun, sejarah politik Indonesia 2024-2026 mencatat realita yang berbeda: Gibran Rakabuming Raka tidak hanya bertahan, ia menang telak.
Statusnya sebagai “alumni” PDI Perjuangan yang sempat terbuang kini menjadi ironi terbesar dalam dekade ini. Saat banyak pengamat meramal kariernya akan redup tanpa restu “Rumah Merah”, Gibran justru melenggang ke kursi Wakil Presiden RI. Fakta angka tidak bisa berbohong, dan angka-angka dari Pilpres 2024 adalah sebuah tamparan bagi logika politik konvensional.
BLUNDER STRATEGIS DAN HARGA SEBUAH KEANGKUHAN
Ironi ini memuncak saat kita melihat papan skor akhir. PDIP, yang selama ini dikenal sebagai mesin politik paling solid, justru harus puas melihat jagoannya finis di posisi buncit dengan raihan 16,47% suara. Angka ini bahkan berada di bawah pasangan Anies Baswedan yang meraih 24,95%.
Pertanyaan retorisnya adalah: Siapa yang sebenarnya sedang “disembelih” secara politik?
Keputusan untuk membuang Gibran terbukti menjadi sebuah strategic blunder. Gibran bukan sekadar “anak presiden ke7”; ia adalah simbol dari pergeseran demografi pemilih yang menginginkan keberlanjutan dan gaya kepemimpinan yang lebih relatable. Dengan melepas Gibran, PDIP secara tidak langsung melepaskan kunci untuk mengakses jutaan suara pemilih muda dan loyalis Jokowi.
BUKAN GIBRAN YANG PERLU DIKASIHANIN
Banyak yang sempat merasa kasihan saat Gibran disebut sebagai “kader yang membangkang”. Namun, melihat posisinya hari ini—aktif meninjau proyek strategis di IKN dan memimpin agenda nasional—jelas bahwa yang perlu dikasihani bukanlah Gibran.
Publik justru kini melihat PDIP sedang berjuang keras mengonsolidasi sisa kekuatannya. Meski masih memenangi Pileg, luka di Pilpres menunjukkan bahwa partai ini sedang kehilangan daya pikat di pucuk kekuasaan. Mengabaikan aset politik seperti Gibran adalah bentuk pengabaian terhadap realitas zaman.
MENYALA DALAM SENYAP
Gibran membuktikan bahwa di era politik digital, “restu partai” bukan lagi satu-satunya tiket emas. Performa bicaranya yang singkat namun lugas, serta eksekusi kerja yang nyata, jauh lebih “menyala” di mata rakyat dibanding narasi ideologis yang mulai usang.
Gibran tidak hanya memenangkan jabatan; ia memenangkan pertarungan persepsi. Kini, sang “anak ingusan” itu duduk di kursi RI-2, sementara pihak yang membuangnya harus puas duduk di kursi penonton dalam konstelasi eksekutif nasional.
Faktanya bicara: Gibran belum habis. Ia justru baru saja memulai.
Menyala, Gibran Rakabuming Raka!
~Lentera Merah Putih












