KawalBersama News, Kairo – Modus kejahatan digital di Indonesia semakin berkembang seiring dengan hadirnya teknologi baru. Setelah marak kasus penipuan dengan QRIS palsu di Google Business, kini para scammer ditemukan memanfaatkan fitur AI Overview Google untuk menjerat korban.
Pengamat media sosial dan analis siber Isnur Hatta menuturkan bahwa modus ini dilakukan dengan cara memanipulasi forum-forum online yang kerap dijadikan rujukan oleh Google. “Mereka membuat banyak akun palsu untuk mengajukan pertanyaan, misalnya soal layanan marketplace atau aplikasi pinjaman. Lalu, akun lain yang juga milik mereka menjawab dengan informasi palsu seperti nomor WhatsApp penipu,” jelas Isnur, Senin (22/9).
AI Jadi Celah Baru Bagi Scammer.
Menurut Isnur, sistem AI Google kemudian merangkum jawaban palsu itu dalam AI Overview dan menampilkannya di hasil pencarian teratas. “Ini yang berbahaya, karena pengguna bisa langsung diarahkan ke scammer dengan percaya diri penuh, tanpa merasa curiga,” ujarnya.
Ia menambahkan, model AI bekerja seperti blackbox yang mudah dipengaruhi oleh data manipulatif. “Kalau sebelumnya penipuan bisa terlihat dari perubahan profil bisnis, kini lebih rumit karena yang dipalsukan adalah sumber informasi yang dianggap valid oleh AI,” kata Isnur.
Potensi Ancaman Lebih Luas: Terorisme
Isnur menegaskan, penyalahgunaan AI tidak berhenti pada penipuan finansial. Teknologi ini juga berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok terorisme. “AI adalah pedang bermata dua. Di satu sisi bisa membantu kehidupan, tapi di sisi lain bisa digunakan untuk propaganda teror, perekrutan anggota, hingga pendanaan,” jelasnya.
Beberapa ancaman yang disorot Isnur antara lain:
- Propaganda otomatis: AI mampu menyebarkan pesan kebencian tanpa henti di media sosial.
- Deepfake: Teknologi ini bisa ‘menghidupkan kembali’ tokoh penghasut terorisme untuk menyebarkan pengaruhnya.
- Terjemahan instan: AI bisa menerjemahkan pesan teror ke berbagai bahasa, membuat propaganda lebih cepat menyebar ke level global.
- Pendanaan digital: Kombinasi AI dan media sosial bisa dimanfaatkan untuk skema penggalangan dana tersembunyi.
“Kalau scammer bisa memanfaatkan celah AI Google untuk menipu orang, bayangkan apa yang bisa dilakukan kelompok teror dengan teknologi yang sama. Dampaknya bisa jauh lebih berbahaya,” tegas Isnur.
Pentingnya Literasi Digital
Isnur mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan kritis terhadap informasi yang mereka temui di internet, terutama jika berkaitan dengan layanan keuangan atau pesan provokatif.
“Masyarakat jangan mudah percaya dengan nomor kontak dari forum atau hasil pencarian AI. Selalu pastikan lewat aplikasi resmi. Di sisi lain, kita juga perlu sadar bahwa propaganda atau konten manipulatif bisa jadi hasil kerja AI. Literasi digital adalah benteng utama kita,” tutupnya.
Sumber berita: Isnur Hatta, Pengamat Media Sosial & Analis Siber











